MUSA WIDYATMODJO

MUSA WIDYATMODJO : “Saya selalu ingin yang serba Indonesia”
Salah satu desainer yang patut untuk diacungi jempol adalah Musa Widyatmodjo. Ia dikenal sebagai salah satu desainer yang sangat mencintai Indonesia. Dan ini terlihat dari karyanya dan dedikasinya terhadap kebudayaan Indonesia. WeddingAs Magz dan WeddingAs.com  berkesempatan untuk menemuinya dalam kegiatan Jakarta Fashion & Food festival 2012.
    
Ciri rancangan Musa adalah kembali lagi siapa kita sebenarnya dan dimana kita berada. “Saya adalah orang Indonesia. Semuua rancangan saya, dikemas supaya wanita Indonesia tampil modern, dan tetap terlihat Indonesia-nya. Inilah yang benar-benar menjadi ciri karakter saya dalam menggarap busana. Saya mencoba mengangkat apakah itu siluet tradisional, kain tradisional ataupun tehnik-tehnik tradisional. Yang pasti, saya selalu mencoba untuk menampilkan karya saya dengan tampilan modern, klasik tradisional, cocok untuk wanita biasa, wanita muslim atau non muslim,” tegas pria yang sudah berkecimpung di dunia mode kurang lebih 20 tahunan ini.
    Di tengah semakin maraknya industri dunia fashion, Musa tidak punya impian yang muluk-muluk. Sejak awal, ia hanya ingin bekerja di dunia fashion yang ia akui membuat ia bahagia. “Saya mencintai dunia fashion, karena dunia fashion itu cantik,” tambah Musa. Lebih jauh Musa mengatakan bahwa masyarakat Indonesia semakin aware akan fashion. “Buktinya makin banyak masyarakat kita yang mau membeli karya anak bangsanya sendiri,” ujar pria yang sering mendapat inspirasi mendisain ini dari konsumen private-nya. Banyak konsumen Musa yang ingin dibuatkan baju pesta atau pernikahan. “Terus terang, merekalah sumber inspirasi saya. Biasanya, aya akan lihat karakter dia seperti apa, mimpinya seperti apa dan kesukaannya apa. Dari situ saya membuat sebuah rancangan dengan warna dan bentuk yang membuat konsumen nyaman,” aku Musa. Namun, kalau bicara idealisme, Musa mengaku sering mendapat inspirasi dari kebudayaan Indonesia, yang memang diakuinya sangat kaya.
    “Kain tenun ikat NTT adalah salah satu yang sering bikin saya tertarik untuk bikin rancangan baru. Ini akan terus saya kembangkan dengan memadukan desain tradisional dan modern serta membina generasi muda untuk tertarik melestarikan budaya tenun ikat ini,” ujar Musa. Motif-motif kain tenun ikat itu dapat berupa buaya, ular, udang, gajah, dan kuda. Sedangkan untuk pewarnaan, dari pengrajin di NTT, diakui Musa dikerjakan dengan memakai warna alami dari mengkudu menghasilkan warna merah, daun nila menghasilkan warna biru, dan warna cokelat merupakan campuran warna biru dan merah. Kain tenun ikat asal NTT sendiri, kembali diangkat Musa Widyatmojo untuk koleksi terbaru lini 'ready to wear' keduanya bertajuk 'M by Musa'. Momen spesial ini ditampilkan pada rangkaian Jakarta Fashion & Food Festival (JFFF), di Hotel Harris, Kelapa Gading, pada hari Rabu, 23 Mei 2012 malam dengan tema “The flobamora indone(she)aku”. Dan Musa, sukses mengombinasikan kain-kain yang berasal dari 21 daerah di NTT. Ini terlihat dari 50 busana berkonsep 'international taste with traditional value' ditampilkan Musa  malam itu.  Warna cerah Motif kain tenun yang asimetris (tak sejajar dengan pola garis-garis tenunnya) dan warna yang cerah terlihat begitu manis dalam busana yang didominasi mini dress bersiluet lurus, rok a-line, shirtdress. Sesekali kesan retro begitu terasa karena permainan motif tenun dan model mini dress yang roknya bervolume. Paduan motif kain dengan bahan lace dan stocking lace pada beberapa busana juga memberikan efek yang dramatis. Uniknya, kain tenun itu juga dipadukan dengan detail dari bordiran bunga anggrek timbul khas Tasikmalaya (Jawa Barat) yang mengambil selendang sulam suji dari Koto Gadang (Sumatera Barat) dan glass bead (batu kaca) dari Jombang (Jawa Timur). Kelihatan sekali kalau Musa memang bangga dengan budaya Indonesia. Musa juga mengaku tetap optimis, bahwa Indonesia bisa menjadi kiblat mode dunia. “Sebab Indonesia punya bahan baku serta warisan budaya yang dapat menginspirasi para desainer. Kita harus rajin dan mau menggalinya,” tandas Musa. (USR/Foto: Eddy Bogel).